SABTU, 28 FEBRUARI 2009 10:36 IBRAHIM MS

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar salah seorang mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi swasta menceritakan tentang kampusnya.

Di sela pembicaraan itu, terlontar pernyataan bahwa dia baru saja mengurus nilai IPK-nya. Yang mengherankan menurut ceritanya, untuk dapat IPK yang tinggi cukup hanya dengan membayar sejumlah uang.

“Mau merubah IPK bayar ja`, makin besar bayarannya makin tinggi IPK-nya”.

“Bahkan ada teman saya yang masih sama-sama praktek kuliah, sudah bisa memperoleh ijazah untuk ikut tes CPNS tahun lalu” jelasnya.

Nadanya yakin.

Saya jadi teringat cerita salah seorang mahasiswa Perguruan Tinggi swasta lainnya sekitar setahun yang lalu, bahwa di kampusnya ada oknum dosen pembimbing yang selalu meminta buah tangan ketika membimbing mahasiswanya.

“Konsultasi ke bapak tu… harus bawa oleh-oleh, baru lancar. Kalau tidak, dia tidak mau terima kita”, begitulah kira-kiranya bahasanya.

“Masa sih, sampai ada yang seperti itu..?”

Saya heran. Antara percaya dan tidak dengan kondisi seperti itu.

Dengan tanpa beban dan rasa malu dia mengiyakan tentang apa yang berlaku di kampusnya.

Hati kecil saya berkata; apa yang patut dibanggakan  dengan kondisi kampus yang seperti itu? Adakah sesuatu yang berarti yang bisa pertanggungjawabkan kepada masyarakat kelak, jika ijazah bisa dibeli, IPK-nya dapat dibayar, skripsi dibuatkan orang lain, dan sebagainya. Lantas, apa tanggung jawab yang dapat diberikan oleh kampus secara akademis, jika idealisme dan moralitas sudah tergadaikan seperti itu? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang terus menerpa diri saya dan sangat meresahkan sebagai  praktisi di dunia akademis.

Perguruan Tinggi idealnya adalah agent of change dalam semua hal ke arah yang lebih baik, pelopor kemajuan ilmu pengetahuan, memproduksi sumber daya manusia yang handal dan professional, mewujudkan cita-cita pembangunan generasi bangsa, melahirkan calon-calon pemimpin bangsa yang intelek, berwawasan dan berilmu pengetahuan yang luas, bahkan merupakan tauladan sebuah komunitas yang beradab,  yang mempelopori perjuangan menegakkan keadilan, kejujuran, demokrasi dan moralitas lainnya.

Memang, perkembangan pembangunan dan peningkatan kesadaran akan pendidikan dewasa ini telah mendorong perkembangan institusi pendidikan tinggi itu sendiri, dari tingkat apapun itu; baik D2, D3 maupun S.1, dari perguruan tinggi negeri (PTN) hingga perguruan tinggi swasta (PTS) dibuka di mana-mana. Banyaknya perguruan tinggi yang muncul pada sisi lain akan memperkaya pilihan bagi calon mahasiswa untuk menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi kondisi ini juga akan menimbulkan persaingan tersendiri dalam merekrut mahasiswanya, terutama perguruan tinggi swasta. Bagaimanapun, besaran jumlah mahasiswa akan berpengaruh pada perolehan biaya operasional sebuah perguruan tinggi.

Realitas ini pada prinsipnya sangat wajar, karena berjalannya proses pendidikan yang baik juga senantiasa memerlukan pembiayaan. Dengan catatan ada proses timbal balik yang setara antara perguruan tinggi dalam bentuk layanan pendidikan yang baik dan professional dengan mahasiswa sebagai user sekaligus yang telah menyumbangkan biaya untuk mendapat pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, proses pendidikan masih menjadi kata kunci dari realitas ini.

Apa yang terjadi pada kasus salah satu institusi PTS yang ada di daerah ini adalah cerminan dari hilangnya idealisme dan moralitas sebuah perguruan tinggi – jika ini melibatkan institusi.

Ironis dan sulit dipercaya.

Persaingan tidak lagi dari aspek peningkatan kualitas dan professionalitas pendidikan yang ditawarkan, melainkan orientasi bisnis dan materialisme.

Jika demikian, akankah kualitas hidup generasi muda bangsa atas dasar nilai kejujuran, kebenaran dan professionalitas masih bisa didapatkan melalui institusi kampus yang telah hilang moralitas tersebut? Ataukah semua orang mesti mengikuti trend institusi pendidikan yang tidak bermoral itu?

Malu, dan memprihatinkan ketika moralitas, idealitas dan profesionalisme sebuah perguruan tinggi sudah tergadaikan dan  diobral dengan buah tangan, uang dan materi. Karena itu, demi tanggung jawab moral, sepatutnya semua pihak mengambil sikap untuk memerangi kasus seperti ini. Sebab, ini hanya akan mencoreng nama baik dan idealisme Perguruan Tinggi sebagai pencetak manusia yang berilmu pengetahuan, bermoral, berkualitas dan professional.

“Hanya orang yang luka yang merasakan pedihnya, hanya orang yang sadar yang mau berubah”

Ibrahim

Mahasiswa Program Ph.D pada Universiti Kebangsaan Malaysia

Asal Nanga Jajang, Kapuas Hulu